Era Kolonial
Selama lebih dari tiga abad, bangsa Eropa menguasai Nusantara untuk kepentingan ekonomi mereka. Dari monopoli rempah hingga sistem tanam paksa, rakyat Indonesia menanggung penderitaan yang melahirkan kesadaran nasional.
Kedatangan Bangsa Eropa
Bangsa Eropa datang ke Nusantara sejak awal abad ke-16, mula-mula untuk mencari rempah-rempah yang harganya setara emas di Eropa. Portugis tiba di Maluku tahun 1512, diikuti Spanyol, Belanda, dan Inggris. Dari sekian bangsa, Belanda yang akhirnya berhasil menguasai seluruh Nusantara melalui organisasi dagang mereka: VOC.
Kronologi Penjajahan
Berdirinya VOC
Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) didirikan oleh pemerintah Belanda sebagai perusahaan perdagangan dengan hak istimewa: monopoli perdagangan di Asia Timur, hak memiliki tentara, mengeluarkan mata uang, mendeklarasikan perang, dan menandatangani perjanjian dengan kerajaan lokal. VOC berfungsi layaknya "negara dalam negara". Pada tahun 1619, Jan Pieterszoon Coen mendirikan Batavia (Jakarta) sebagai pusat operasi VOC.
Tanam Paksa (Cultuurstelsel)
Setelah VOC bangkrut tahun 1799, pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan. Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memperkenalkan sistem Tanam Paksa: setiap desa wajib menyisihkan sebagian tanahnya (1/5) untuk menanam komoditas ekspor (kopi, tebu, nila, indigo) yang dijual ke pasar Eropa. Sistem ini menghasilkan keuntungan besar bagi Belanda namun menyengsarakan rakyat — menyebabkan kelaparan, wabah penyakit, dan kekurangan pangan di berbagai daerah.
Politik Etis
Akibat kritik tajam dari para penulis Belanda (Multiatuli dalam novel Max Havelaar), pemerintah Belanda mengubah kebijakan menjadi Politik Etis dengan tiga program: irigasi (pengairan), edukatie (pendidikan), dan emigratie (transmigrasi). Meskipun terdengar baik, tujuan sebenarnya adalah mempersiapkan Indonesia sebagai pasar konsumsi produk Belanda dan menyediakan tenaga kerja terampil.
Pergerakan Nasional
Politik Etis melahirkan kaum terpelajar pribumi yang mulai menyadari pentingnya persatuan. Tahun 1908, Budi Utomo didirikan oleh Sutomo — ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Organisasi-organisasi lain bermunculan: Sarekat Islam (1911), Indische Partij (1912), Perhimpunan Indonesia (1922). Puncaknya, Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 melahirkan Sumpah Pemuda: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa — Indonesia.
Perlawanan Rakyat
Diponegoro (1825–1830)
Perang Jawa — perlawanan terbesar di Jawa terhadap Belanda
Teuku Umar (1873–1904)
Perang Aceh — strategi gerilya yang merepotkan Belanda
Sisingamangaraja XII (1878–1907)
Perlawanan Batak — menolak penjajahan Belanda di Sumatra Utara
Kapitan Pattimura (1817)
Perlawanan di Maluku — digantung oleh Belanda di Ambon

Rangkuman BAB 3
- Bangsa Eropa datang untuk rempah, Belanda mendominasi melalui VOC (1602)
- Tanam Paksa (1830–1870) menyengsarakan rakyat untuk keuntungan Belanda
- Politik Etis (1901) membuka akses pendidikan yang melahirkan kaum terpelajar
- Pergerakan nasional bermula dari Budi Utomo (1908) hingga Sumpah Pemuda (1928)
- Perlawanan rakyat terjadi di seluruh Nusantara: Diponegoro, Teuku Umar, Pattimura, dll.